Senin, 25 Oktober 2010

hubungan antara penduduk,masyarakat dan kebudayaan

HUBUNGAN PENDUDUK,MASYARAKAT, DAN KEBUDAYAAN
Pengertian Penduduk:
Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
  • Orang yang tinggal di daerah tersebut
  • Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.
Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu Demografi. Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat dengan unit-unit ekonmi, seperti pengecer hingga pelanggan potensia.
Pengertiam Masyarakat:
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata “masyarakat” sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.
Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

Pengertian Budaya:
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Keterkaitan antara penduduk, masyarakat dan kebudayaan:
HUBUNGAN MANUSIA (PENDUDUK)DENGAN KEBUDAYAAN
pada akhirnya terdapat konsepsi tentang kebudayaan manusia yang memberi gambaran bahwa hanya manusia saja yang mampu berkebudayaan/menghasilkan kebudayaan dan sebaliknya tak ada ebudayaan tanpa manusia.

HUBUNGAN MASYARAKAT DENGAN KEBUDAYAAN
- Masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan manusia karena hanya manusia yang hidup bermasyarakat.
- dimana orang bermasyarakat akan timbul kebudayaan
- manusia , masyarakat dan kebudayaan merupakan kesatuan uth karena dari 3 unsur inilah kehiduap sosial berlangsung


Pengertian Masalah Sosial/Penduduk:
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.

Tingkat Kelahiran dan Rumus:
Dalam demografi, istilah tingkat kelahiran atau crude birth rate (CBR) dari suatu populasi adalah jumlah kelahiran per 1.000 orang tiap tahun. Secara matematika, angka ini bisa dihitung dengan rumus CBR = n/((p)(1000)); di mana n adalah jumlah kelahiran pada tahun tersebut dan p adalah jumlah populasi saat penghitungan. Hasil penghitungan ini digabungkan dengan tingkat kematian untuk menghasilkan angka tingkat pertumbuhan penduduk alami (alami maksudnya tidak melibatkan angka perpindahan penduduk (migrasi).
Indikator lain untuk mengukur tingkat kehamilan yang sering dipakai: tingkat kehamilan total – rata-rata jumlah anak yang terlahir bagi tiap wanita dalam hidupnya. Secara umum, tingkat kehamilan total adalah indikator yang lebih baik untuk tingkat kehamilan daripada CBR, karena tidak terpengaruh oleh distribusi usia dari populasi.
Tingkat kehamilan cenderung lebih tinggi di negara yang ekonominya kurang berkembang dan lebih rendah di negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi.

Pengertian Kelahiran dan Angka Kelahiran:
Kelahiran
Kelahiran adalah ekspulsi atau ekstraksi lengkap seorang janin dari ibu tanpa memperhatikan apakah tali pusatnya telah terpotong atau plasentanya masih berhubungan. Berat badan lahir adalah sama atau lebih 500 gram, panjang badan lahir adalah sama atau lebih 25 cm, dan usia kehamilan sama atau lebih 20 minggu.
Angka Kelahiran
Angka kelahiran adalah jumlah kelahiran per 1000 penduduk.
Sumber :
Cunningham, Mac Donald, Gant. Obstetri Williams, ed. ke-18. dr. Joko Suyono & dr. Andry Hartono (penerj.). Jakarta : EGC.

Penertian Dinamika Penduduk:
Dinamika kependudukan adalah perubahan kependudukan untuk suatu daerah tertentu dari waktu ke waktu. pertumbuhan penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun ke luar. Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu daerah dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan penduduk yang minus berarti jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah mengalami penurunan yang bisa disebabkan oleh banyak hal. Pertumbuhan penduduk meningkat jika jumlah kelahiran dan perpindahan penduduk dari luar ke dalam lebih besar dari jumlah kematian dan perpindahan penduduk dari dalam ke luar.

Minggu, 24 Oktober 2010


Unicef: Kematian Anak Menurun, Tapi Belum Cukup

Markas PBB (ANTARA News) - Jumlah anak-anak yang meninggal sebelum mencapai ulang tahunnya yang kelima telah turun sebanyak sepertiga dalam dua dasawarsa terakhir, namun masih ada lebih dari delapan juta kematian setiap tahun, kata Badan Peserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Urusan Anak-anak (Unicef), Kamis (16/9).

Rata-rata kematian meningkat di India, Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Pakistan dan China.

Menurut perkiraan terakhir Unicef, jumlah kematian anak-anak dibawah usia lima tahun telah menurun dari 12,4 juta per tahun pada 1990 menjadi 8,1 juta pada 2009.

Angka rata-rata kematian anak usia dibawah lima tahun dunia pada periode itu telah turun dari 89 kematian per 1.000 kelahiran menjadi 60 per 1.000 kelahiran.

Unicef mencatat bahwa hal itu berarti jika jumlah anak-anak di seluruh dunia yang meninggal lebih sedikit 12.000 orang dibandingkan pada 1990.

Namun, Unicef juga mencatat jika "tragedi kematian anak yang dapat dicegah masih berlanjut. Sekitar 22 ribu anak-anak dibawah usia lima tahun masih meninggal setiap harinya, sekitar 70 persen dari kematian itu terjadi di tahun pertama kehidupan anak."

Angka rata-rata kematian anak tertinggi adalah di sub sahara Afrika, lokasi dimana sekitar satu dari delapan anak-anak tewas sebelum mencapai ulang tahun kelimanya --hampir 20 kali dari angka rata-rata kematian di kawasan berkembang (1 dalam 167).

Asia selatan memiliki angka rata-rata tertinggi kedua, dengan sekitar 1 untuk setiap 14 anak meninggal sebelum mencapai lima tahun.

Namun sekitar separuh dari kematian awal anak-anak di seluruh dunia saat ini terjadi di India, Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Pakistan, dan China.

Dan kecepatan dari penurunan tidak akan cukup cepat untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) pada 2015, kata Unicef.

Kematian anak akan menjadi salah satu tujuan kunci yang dibahas dalam sidang tahunan PBB di New York pekan depan.

Angka perkiraan baru akan diterbitkan pada laporan Tingkat dan Kecenderungan Kematian Anak pada 2010, yang dikeluarkan oleh Badan PBB urusan Perkiraan Kematian Anak (IGME).

sumber     :antaranews.com

Nama              : Fajar Shiddia
Kelas               : 1KA31
Mata Kuliah     : Ilmu Sosial Dasar

Sabtu, 23 Oktober 2010

Migrasi Tahun 1870-1942:  Migrasi Wanita Pribumi Antar Wilayah Di Pulau Jawa

I. Pengantar
Sejarah migrasi wanita pribumi di pulau Jawa terkait erat dengan perluasan ekonomi kapitalistik Barat1. Perluasan ekonomi tersebut dijalankan oleh para pemilik modal swasta melalui perluasan dan pembukaan perkebunan, industri dan pertambangan, baik di dalam pulau Jawa, pulau Sumatera maupun pulau Kalimantan. Berbagai perkebunan maupun industri yang diperluas maupun sedang dibuka, membutuhkan tenaga kerja dari berbagai wilayah yang jumlahnya banyak, baik tenaga kerja laki-laki maupun wanita. Di berbagai perkebunan seperti perkebunan tebu, kopi dan tembakau, ada berbagai pekerjaan yang diberikan pada wanita antara lain: menanam, memanen, memelihara tanaman, memupuk, melipat daun tembakau, menyiangi rumput, dan memetik biji kopi, sedangkan pekerjaan seperti: menyiapkan lahan, membalik tanah, menebang, mengangkut hasil panen dari ladang ke gudang dan pabrik, diberikan pada laki-laki.
Demikian pula dalam sektor industri, berbagai pekerjaan yang dipandang “ringan” seperti memilih (menyortir) biji kopi, mengepak gula, pembantu rumah tangga dikerjakan oleh wanita. Kehadiran buruh wanita sangat penting dalam ekonomi kapitalistik Barat, sebab dalam hal ini wanita merupakan modal ekonomi, merupakan bagian dalam proses produksi yang murah, sehingga menguntungkan para pemilik modal. Perluasan dan pembukaan perkebunan dan industri telah membuka kesempatan baru pada wanita untuk bekerja di luar rumah. Dalam konteks ini, secara tidak langsung wanita menjadi terlibat dalam lalu lintas ekonomi dunia. Migrasi wanita terkait juga dengan pergeseran nilai dalam diri wanita itu sendiri dan masyarakatnya. Wanita berani mengambil kesempatan kerja di luar rumah, di sektor perkebunan atau industri yang kadang-kadang relatif jauh dari rumah dan keluarganya. Keberanian ini didorong oleh desakan untuk dapat mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Pergeseran dalam sistem nilai, dapat dilihat dari dukungan keluarga dalam bentuk pemberian ijin bagi wanita yang sudah menikah, janda maupun wanita yang belum menikah, untuk bekerja di luar rumah, selama 1 sampai 2 tahun.
Pemberian ijin dari keluarga bagi wanita yang bekerja bekerja di luar rumah juga karena tuntutan dari pemerintah Belanda. Migrasi wanita didorong oleh terjadinya perubahan-perubahan dalam struktur sosial ekonomi di dalam masyarakatnya sebagai dampak dari praktek kolonial. Liberalisasi ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan sistem upah yang dibayarkan dalam bentuk uang, telah menyebabkan ekonomi uang meresap dalam kehidupan penduduk pedesaan. Monetisasi menyebabkan penduduk menjadi tergantung pada uang. Penduduk membutuhkan uang untuk berbagai keperluan seperti membayar pajak, membeli barang-barang kebutuhan hidup termasuk kebutuhan-kebutuhan yang menjadi bagian dari gaya hidup. Dalam masyarakat pedesaan, kebutuhan ekonomi dipikul bersama oleh seluruh keluarga.
Dalam pengertian ini, pemenuhan kebutuhan ekonomi tidak hanya menjadi tanggung jawab kaum laki-laki saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab kaum wanita. Oleh karena itu, ketika pendapatan keluarga tidak mencukupi, maka wanita mempunyai kewajiban untuk mengatasi krisis ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai buruh. Dengan demikian, wanita mempunyai peran yang sangat penting dalam sektor ekonomi. Proses migrasi dimungkinkan karena adanya agen tenaga tenaga kerja. Untuk mendapatkan tenaga kerja wanita, para agen tenaga kerja bekerja sama dengan para kepala desa. Penguasa desa inilah yang mempengaruhi atau “merayu” keluarga untuk mengijinkan para wanita bekerja di luar rumah. Selain para agen tenaga kerja, proses migrasi dipermudah dengan pemberian uang muka sebagai bentuk ikatan kerja dan tersedianya sarana dan prasarana transportasi.
Tulisan ini masih merupakan penelitian awal yang dimaksudkan untuk menjelaskan mengenai berbagai persoalan: 1) mengapa wanita pribumi Jawa melakukan migrasi?. Dalam konteks ini, perlu dijelaskan faktor pendorong dan penarik migrasi wanita. Persoalan-persoalan di daerah asal dan kemajuan ekonomi di wilayah tujuan sebagai dampak dari praktek ekonomi kapitalisme Barat perlu dijelaskan. 2) Bagaimana proses migrasi wanita pribumi Jawa? Apa peran para agen tenaga kerja dan kepala desa, serta sarana dan prasarana transportasi dalam proses migrasi? 3) Bagaimana arah dan model migrasi wanita pribumi Jawa? Dalam hal ini akan dijelaskan wilayah-wilayah mana saja yang menjadi tujuan migrasi, serta berbagai model atau pola migrasi wanita. 4) Berkaitan dengan persoalan wanita, bagaimana budaya Jawa mengakomodasi kepentingan ekonomi wanita dan sejauh mana pergeseran nilai itu memberi kesempatan pada wanita untuk bekerja di luar rumah? 5) apa pengaruh depresi 1930 terhadap migrasi wanita?.
Migrasi wanita pribumi Jawa penting untuk dijelaskan sebab: 1) kajian migrasi wanita pribumi Jawa khususnya periode kolonial belum banyak dibicarakan. Kajian migrasi yang ada lebih menitik beratkan pada kajian yang bernuansa maskulin, artinya migrasi dipandang sebagai kegiatan laki-laki bukan kegiatan wanita. Dengan demikian, sejarah migrasi adalah sejarah migrasi kaum laki-laki. 2) Migrasi wanita pribumi terkait erat dengan perkembangan ekonomi kapitalistik. Dalam konteks ini, wanita sebagai salah satu pelaku ekonomi seringkali tidak diperhitungkan. Padahal wanita dengan keuletannya dan cucuran keringat telah memberi keuntungan yang besar pada para pemilik modal. 3) Wanita Jawa yang hidup dalam budaya yang patriarkhis, mampu mendobrak tradisi yang mengikat. Bekerja di luar rumah, di tempat yang relatif jauh, dalam waktu yang relatif lama, dan menggantikan beberapa pekerjaan di perkebunan, yang semula didominasi kaum laki-laki, merupakan suatu pendobrakan. 4) Tulisan tentang migrasi wanita juga dimaksudkan untuk memberi ruang pada keberadaan wanita sebagai bagian sejarah masyarakatnya.
Periode tahun 1870 merupakan periode yang sangat penting dalam sejarah Jawa, karena pada masa itu pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik ekonomi liberal. Kebijakan itu telah memberi andil yang besar bagi semakin intensifnya kegiatan migrasi wanita terkait dengan perluasan ekonomi kapitalistik Barat. Periode kajian tentang migrasi wanita dibatasi sampai tahun 1942, yakni periode masuknya Jepang di tanah Jawa. Tulisan ini hendak menjelaskan migrasi wanita pribumi Jawa selama kurun waktu 72 tahun, selama masa kolonial Belanda. Dalam kurun waktu yang relatif lama itu akan dapat dilihat perkembangan ataupun perubahan-perubahan migrasi wanita. Pulau Jawa dipilih sebagai batasan wilayah dalam tulisan ini, karena pulau Jawa mempunyai jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya, yang berarti mempunyai tenaga kerja yang relatif banyak. Selain itu, pulau Jawa memiliki pusat-pusat ekonomi, baik yang berupa perkebunan, pabrik, industri, jasa, maupun perdagangan.
II. Migrasi Wanita: Konsep, Latar Belakang dan Proses Migrasi
A. Batasan Migrasi Wanita
Batasan wanita pribumi Jawa dalam tulisan ini adalah wanita kelas bawah atau “wong cilik”, yang mencakup: 1) wanita tidak bertanah, yang memang berprofesi sebagai buruh pertanian ataupun non pertanian, 2) wanita petani yang mempunyai tanah dan mereka bekerja sebagai buruh untuk mengisi waktu luang sambil menunggu datangnya panen. Artinya petani wanita menjadi buruh untuk pekerjaan sampingan. Berkaitan dengan migrasi, Everett S. Lee mengatakan bahwa migrasi dalam arti luas adalah perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen. Dalam konsep ini tidak ada pembatasan baik pada jarak perpindahan maupun sifatnya, yakni apakah perpindahan itu bersifat sukarela atau terpaksa, serta tidak diadakan perbedaan antara migrasi dalam negeri dan migrasi luar negeri.
 Tindakan migrasi dipengaruhi oleh 4 faktor yakni: 1) faktor yang berkaitan dengan daerah asal, 2) faktor yang berkaitan dengan daerah yang dituju, 3) faktor-faktor rintangan antara daerah asal dengan daerah tujuan, dan 4) faktor individu. Wanita pribumi Jawa melakukan migrasi karena dipengaruhi oleh empat faktor tersebut. Daerah asal dan daerah tujuan migrasi masing-masing mempunyai faktor positif dan negatif. Faktor positif diartikan sebagai faktor yang memberikan nilai menguntungkan kalau bertempat tinggal di daerah itu, sedangkan faktor negatif diartikan sebagai faktor yang memberikan nilai tidak menguntungkan pada daerah yang bersangkutan. Oleh karena faktor negatif itu, wanita Jawa terdorong untuk melakukan migrasi, agar kebutuhannya terpenuhi.
Menurut teori kebutuhan dan tekanan (need and stress), keputusan seseorang melakukan migrasi terkait erat dengan masalah kebutuhan yaitu kebutuhan ekonomi, sosial dan psikologi. Apabila kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka seseorang dapat menjadi tertekan atau stress. Hal inilah yang mendorong wanita Jawa melakukan migrasi agar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi. Akan tetapi jika kebutuhan-kebutuhan itu dapat dipenuhi maka orang tidak akan migrasi. Berkaitan dengan faktor rintangan antara, bahwa besar kecilnya arus migrasi dipengaruhi oleh rintangan antara, seperti misalnya sarana dan prasarana transportasi, tekanan pekerjaan dari pemerintah dan pajak. Dalam kaitannya dengan migrasi wanita pribumi Jawa, arus migrasi dipermudah dengan tersedianya faktor sarana dan prasarana transportasi darat.
Dibangunnya jalur kereta api dan jalan raya di pulau Jawa mempermudah pengangkutan barang dan orang dari satu daerah ke daerah lain khususnya wilayah-wilayah yang menjadi pusat pusat-pusat ekonomi dan daerah perkotaan. Menurut Everett Lee, masing-masing individu yang menilai positif dan negatifnya suatu daerah dan mereka yang membuat keputusan akan pindah dari daerah asal atau tidak. Daerah asal yang dinilai negatif dalam arti kurang mampu memberi jaminan hidup lebih baik, merupakan faktor pendorong wanita pribumi Jawa untuk migrasi. Apabila nilai negatif daerah asal lebih banyak dibandingkan dengan nilai negatif daerah yang dituju, maka wanita itu sendiri yang akan memutuskan untuk migrasi atau tidak. Selanjutnya Everett S. Lee mengatakan bahwa besar kecilnya arus migrasi juga dipengaruhi oleh adanya sejumlah perbedaan antar tempat baik yang berkaitan dengan faktor ekonomi, sosial maupun politik, sarana transportasi, dan biaya pindah.
Migrasi dapat dikelompokkan dalam migrasi permanen dan non permanen termasuk di dalamnya migrasi musiman dan sirkuler atau ulang alik. Migrasi permanen adalah gerak penduduk yang melintasi batas wilayah asal menuju ke wilayah lain dengan ada niatan menetap di daerah tujuan, sedangkan perpindahan penduduk dengan tidak ada niatan menetap disebut migrasi non permanen. Migrasi wanita pribumi Jawa dapat dikategorikan dalam migrasi permanen dan non permanen.
B. Latar Belakang Migrasi Wanita: Daerah Asal dan Daerah Tujuan
Mengapa wanita pribumi Jawa melakukan migrasi? Ada berbagai faktor yang mendorong dan menarik wanita melakukan migrasi. Faktor-faktor pendorong migrasi berkaitan dengan berbagai persoalan wilayah asal, apakah itu yang mencakup persoalan ekonomi, kesempatan kerja, bencana alam atau epidemi, sedangkan faktor-faktor penarik mencakup pertumbuhan ekonomi wilayah tujuan, upah dan fasilitas kerja, pemberian uang muka.
B. 1. Daerah Asal
Daerah asal migrasi wanita mencakup seluruh wilayah Jawa, demikian pula dengan daerah tujuan migrasi. Artinya bahwa setiap wilayah di dalam pulau Jawa, menjadi wilayah penerima migran atau sebaliknya. Persoalan-persoalan daerah asal antara wilayah satu dengan wilayah lainnya tidak sama. Dengan demikian penyebab wanita melakukan migrasi antara wilayah satu dengan wilayah lainnya juga tidak sama. Secara umum persoalan daerah asal yang menjadi pendorong wanita melakukan migrasi adalah: pertama, berkurangnya lahan pertanian penduduk sebagai akibat penyewaan tanah sawah. Penduduk menyewakan sebagian atau seluruh tanahnya pada para penyewa untuk mendapatkan uang kontan guna membayar pajak dan membeli barang-barang yang menjadi bagian dari gaya hidup. Akibat penyewaan, tanah sawah yang tersisa tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Oleh karena itu, mereka pergi migrasi untuk mencari pekerjaan sambilan sebagai buruh.
Demikian pula dengan para petani gurem yang menggadaikan seluruh tanahnya pada para pemberi pinjaman, ketika mereka tidak mampu membayar utang dengan bunganya, maka tanahnya diambil oleh para pemberi pinjaman. Oleh karena itu, para petani gurem beserta seluruh keluarganya melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan sebagai buruh di perkebunan atau pabrik di luar wilayahnya. Dalam konteks ini, wanita dari petani gurem ikut migrasi dan bekerja sebagai buruh untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Kedua, kegagalan panen menyebabkan makanan untuk keluarga berkurang.
Kondisi ini mendorong penduduk migrasi menuju wilayah yang dapat memberikan makanan bagi keluarganya. Persoalan epidemik yakni berjangkitnya berbagai wabah penyakit di beberapa wilayah, misal wabah kolera di Banten; cacar, malaria, influensa, dan kolera di Grobogan awal abad ke-20; wabah cacar dan kolera di Demak dan Grobogan dalam tahun 1893- 1895 dan tahun 1900-1902, telah mendorong penduduk melakukan migrasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa wanita melakukan migrasi karena ingin keluar dari batasan-batasan berjangkitnya wabah penyakit, kelaparan yang disebabkan panen gagal, ingin hidup lebih baik dan untuk menopang gaya hidup. Ketiga, migrasi wanita karena didorong oleh faktor kemiskinan. Elson mengatakan bahwa faktor kemiskinan yang mendorong penduduk Jawa melakukan migrasi.
Menurut Elson, sebagian besar tenaga kerja gula datang dari tingkat masyarakat desa termiskin, yang hanya mempunyai sedikit tanah atau tidak mempunyai tanah sama sekali dan bergantung pada pendapatan tambahan yang mereka peroleh dari pekerjaan pabrik. Pandangan yang hampir sama dikemukakan oleh G.R. Knight, bahwa pekerja di pabrik sebagian berasal dari luar perbatasan areal pabrik, yang pada umumnya adalah petani yang tidak mempunyai tanah. Keempat, terbatasnya kesempatan kerja bagi kaum wanita di daerah asalnya. Terbatasnya kesempatan kerja bagi wanita berkaitan erat dengan daerah asal yang kurang potensial untuk perkebunan maupun industri dan tingkat kepadatan penduduk.
Faktor-faktor yang saling berkaitan itu mendorong wanita untuk melakukan migrasi. Kelima, dalam masyarakat pedesaan, wanita dan laki-laki mempunyai peran dan kewajiban yang sama dalam usahanya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Wanita bekerja membantu suami di sawah, mencari kayu bakar, menggembala ternak, mencari rumput untuk ternaknya, berjualan hasil kebun di pasar, bekerja sebagai buruh tani seperti buruh “nderep” padi di sawah tetangga, merupakan hal yang biasa. Akan tetapi wanita bekerja di luar rumah dalam jarak yang relatif jauh, dalam waktu yang relatif lama, merupakan sesuatu yang kurang bisa diterima masyarakat Jawa pada masa itu (kolonial).
Dalam perkembangannya, oleh karena desakan ekonomi, penawaran kerja, dan terbukanya pusat-pusat ekonomi bagi tenaga kerja wanita, telah mendorong terjadinya pergeseran nilai dalam budaya Jawa. Dalam pengertian ini, budaya jawa memberi “kelonggaran” pada wanita untuk bekerja di luar rumah. Dapat dikatakan bahwa wanita bermigrasi untuk mengatasi krisis ekonomi keluarga.
B.2. Daerah Tujuan Migrasi
Pada umumnya, wilayah tujuan migrasi adalah pusat-pusat ekonomi seperti wilayah perkebunan, industri maupun wilayah perkotaan. Perkebunan tebu, kopi, tembakau, teh, dan jasa khususnya pembantu rumah tangga merupakan usaha-usaha yang membutuhkan banyak tenaga wanita. Pusatpusat ekonomi tersebut menarik migrasi wanita karena menyediakan berbagai lapangan kerja, upah kerja, dan fasilitas kerja. Daerah-daerah perkebunan tebu dan pabrik gula di West-Java yang menjadi wilayah tujuan migrasi antara lain: Batavia, Buitenzorg (Bogor), Krawang, Priangan. Wilayah Midden-Java yang menjadi wilayah tujuan migrasi antara lain: Cirebon, Probolinggo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Jepara, sedangkan wilayah Vorstenlande yakni Surakarta dan Yogyakarta. Wilayah Oost-Java yang menjadi wilayah tujuan migrasi antara lain: Pasuruan dan Surabaya. Wilayah yang signifikan merekrut buruh adalah Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang.
Daerah Perkebunan kopi yang menjadi wilayah tujuan migrasi antara lain: Semarang, Surakarta, Krawang dan Buitenzorg, sedangkan Perkebunan nila yang menjadi wilayah tujuan migrasi adalah Yogyakarta. Pabrik gula Pekalongan-Tegal, sebagai salah satu wilayah tujuan, sampai tahun 1930 mengusahakan areal penanaman tebu seluas 18.000 ha. Areal ini membutuhkan buruh yang sangat banyak. Di pabrik gula Kalimati, kabupaten Batang pada tahun 1909 menggunakan 4200 buruh untuk menggarap lahan seluas 900 ha. Hal ini memberikan suatu gambaran betapa besar arus migrasi ke wilayah itu, karena kebutuhan pabrik akan tenaga kerja yang besar dari luar wilayah pabrik dan perkebunan. Wilayah Perkotaan yang menjadi tujuan migrasi antara lain: Batavia, Bandung, Semarang dan Surabaya. Batavia menarik wilayah tetangganya yakni Banten karena menyediakan berbagai lapangan pekerjaan.
Dalam tahun 1930 ada sekitar 50% penduduk Batavia, Bandung dan Surabaya berasal dari wilayah lain. Mereka bekerja di sektor perdagangan, jasa termasuk pembantu rumah. Penduduk yang datang ke kota sebagian adalah para petani yang menyewakan tanah pada pabrik, tetapi mereka sendiri kemudian bekerja di kota dan tidak mau bekerja di perkebunan gula. Dalam hal ini berarti ada perubahan dalam orientasi kerja. Nampaknya pekerjaan di sektor pertanian maupun perkebunan tidak lagi menarik bagi sebagian penduduk. Wilayah Industri yang menjadi tujuan migrasi antara lain: Batavia (11 industri), Semarang, (11 industri), Surabaya (60 industri), Kediri (10 industri), Cirebon (5 industri), Probolinggo dan Bagelen (masing-masing 4 industri), Yogyakarta (3 industri), Jepara, Pasuruan dan Surakarta (masing-masing 2 industri), Preanger, Tegal, Pekalongan, Rembang, Kedu (masing-masing 1 industri).
Wilayah Semarang sampai tahun 1926 memiliki berbagai industri yang menyerap tenaga kerja yakni: industri pers, komunikasi (telegraf, pos, telpun), transportasi (KA dan kapal laut), utility industries (gas, listrik dan air bersih), mebel, cat, tinta dan kaleng, juga minyak, obat nyamuk, es, limon, air mineral, pengolahan parfum dan permen, sandal, timbangan, tekstil, percetakan, jamu, tegel, beton, daging, konstruksi untuk perumahan.Oleh karena perkembangan industri di Semarang yang cukup pesat maka Semarang menjadi pusat industri yang penting29. Wilayah West-Java merupakan pusat manufaktur yang cukup penting. Pada tahun 1928, di West-Java terdapat 1298 pabrik dan meningkat menjadi 1406 di tahun 1929, sementara itu Bandung khususnya wilayah Majalengka mempunyai 1500 usaha.
Sebelum tahun 1920, wanita yang bekerja di pabrik gula di Jawa secara keseluruhan menyita waktu kerja 30% dari total waktu kerja di lapangan. Di pabrik gula Pekalongan-Tegal pada tahun 1908-1911, wanita dan anak-anak menjadi bagian besar dari angkatan kerja di setiap tahun. Di awal abad ke-20, wanita menopang sekitar 17% dari total tenaga kerja pabrik dan bekerja lebih lama dibandingkan laki-laki dan kemudian turun jumlahnya pada masa depresi ekonomi. Hal ini menunjukkan pentingnya buruh eanita pada sektor perkebunan dan industri. C. Proses Migrasi Proses migrasi wanita dari wilayah asal ke wilayah tujuan dapat berjalan karena adanya kerja sama antara agen pencari tenaga kerja dan kepala desa. Agen tenaga kerja yang disebut dengan istilah mandor, bertugas memobilisasi tenaga kerja atas nama pabrik.
Proses migrasi juga dipermudah dengan sistem pemberian uang muka sebagai tanda ikatan kerja oleh para pemilik modal yang diberikan lewat mandor. Di samping itu, proses migrasi juga didukung oleh tersedianya sarana dan prasarana transportasi. Pembangunan jalan-jalan raya (kereta kuda) dan rel kereta api dapat membuka wilayah pedesaan dan menghubungkan dengan pusat-pusat ekonomi dengan mudah dan cepat.
Sejak akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda membangun jalan kereta api dan jalan tram, demikian pula pihak swasta juga membangun jalan kereta api di pulau Jawa dan Sumatera. Jalan kereta api yang dibangun pemerintah Belanda yakni: jalur Buitenzorg-Jogyakarta dengan cabang-cabangnya, jalur Batavia-Tanjung Priuk. Jalan kereta api yang dibangun oleh swasta yakni jalur Semarang-Vorstenlanden-Willem I, jalur Batavia-Buitenzorg (lijnen der Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij), jalur Batavia-Kedung Gedeh (Bataviasche Ooster-Spoorweg). Jalan untuk tram bertenaga uap dibangun untuk jalur-jalur Semarang-Juana dengan cabang-cabangnya (Semarang- Joana Stoomtram-Maatschappij), jalur Batavia – Meester Cornelis - Kampung Melayu (Nederlandsch-Indische Stoomtram-Maatschappij), jalur Surabaya- Sepanjang dan Mojokerto-Ngoro dengan cabang-cabangnya (Oost-Java Stoomtram-Maatschappij), jalur Jogyakarta-Brosot (Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij).Semarang merupakan pusat pertemuan jalur-jalur KA: Nederlandsch-Indische Spoorweg, Semarang-Cirebon Spoorweg, dan Semarang-Joeana Spoorweg. Di samping itu, Semarang mempunyai jalan darat yang menghubungkan tempat-tempat penting di daerah pedalaman Jawa Tengah.
III. Arah dan Pola Migrasi
Pertama, migrasi wanita cenderung ke pusat-pusat ekonomi yakni ke perkebunan, pabrik gula dan industri, antara lain: Tegal, Pekalongan, Semarang, Rembang, Jepara, Yogyakarta, Surakarta, Priangan, Cirebon, Sukabumi, Pasuruan, Besuki, Batavia dan Surabaya Kedua, migrasi wanita ke pusat-pusat ekonomi yang relatif dekat, seperti penduduk yang migrasi ke Semarang berasal dari wilayah sekitarnya antara lain dari wilayah Demak, Grobogan, Salatiga, Ambarawa, Rembang dan Surakarta Walaupun ada juga sebagian yang migrasi ke wilayah yang relatif jauh. Ketiga migrasi wanita cenderung ke perkotaan, untuk bekerja di sektor non pertanian,seperti di sektor industri dan jasa sebagai pembantu rumah tangga.
Keempat, di Midden-Java dan Vorstenlanden, wanita cenderung lebih banyak melakukan migrasi dibandingkan laki-laki, demikian pula dari wilayah Oost-Java dan sebagian kecil West-Java yakni Cirebon, sedagkan sebagian besar wilayah West-Java seperti Tasikmalaya, Bandung, Batavia dan Ciamis, laki-laki yang lebih banya melakukan migrasi daripada wanita. Kelima, wanita pribumi yang melakukan migrasi adalah wanita pedesaan baik wanita dari keluarga yang memiliki tanah dan yang tidak memiliki tanah, yang melakukan migrasi untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Keenam, pola umum dari sifat migrasi wanita adalah migrasi musiman dan permanen. Migrasi musiman terutama di perkebunan tebu karena dipengaruhi oleh: 1), sistem penanaman yang digunakan, yakni sistem penggabungan penanaman tebu ke dalam siklus produksi domestik petani. 2) pekerjaan di lapangan dan di pabrik yang tidak lebih dari pekerja sambilan bagi migran musiman, dan mereka kembali ke pekerjaan utama setelah jasa mereka tidak dibutuhkan lagi.
Migrasi musiman nampak pada musim panen padi. Para wanita menjadi buruh “nderep”, pergi berkeliling atau pindah tempat dari sawah ke sawah desa, dan kegiatan migrasi itu nampak di seluruh Jawa. Sementara itu sejumlah besar pedagang keliling sibuk berkeliling menjual barang. Ketujuh, buruh migran wanita menerima upah yang dibayarkan dalam sistem upah harian ataupun mingguan. Upah kerja yang diterima wanita jumlahnya lebih rendah dari pada upah yang diterima laki-laki. Dalam berbagai bidang pekerjaan, pada umumnya upah yang diberikan pada wanita jumlahnya hampir separonya upah yang diberikan pada laki-laki.
Walaupun demikian, upah yang rendah tidak menyurutkan langkah wanita untuk melakukan migrasi. IV. Migrasi Wanita dan Depresi Ekonomi Bagi pemerintah kolonial dan para pemilik modal, masa depresi merupakan masa-masa yang suram. Sebagian industri tutup atau mengurangi produksinya karena turunnya permintaan pasar akan produknya. Dalam mengatasi situasi yang sulit ini, para pemilik modal melakukan penghematan dengan cara mengurangi jumlah tenaga kerja, wilayah operasi, jam kerja, hari kerja, upah kerja atau melakukan pemutusan hubungan kerja. Kelesuan ekonomi ini berpengaruh pada arus migrasi wanita ke perkebunan maupun sektor industri lainnya, sebab pusat-pusat ekonomi tersebut mengalami penurunan dalam proses produksi. Artinya peluang kerja bagi wanita untuk bekerja di sektor perkebunan maupun industri menjadi berkurang. Para buruh yang terkena pemutusan kerja pulang kembali ke daerah asalnya.
Dalam konteks ini, terjadilah arus balik migrasi dari pusat-pusat ekonomi ke daerah asal tenaga kerja. Akibatnya, daerah asal memikul beban ekonomi yang berat karena banyaknya pengangguran. Standart hidup penduduk merosot karena pendapatan berkurang. Di samping itu ekonomi pedesaan juga turun, karena harga hasil bumi seperti ketela, jagung, padi turun. Dampak yang lain dari depresi ekonomi yakni meluasnya kerusuhan di pedesaan, kasus yang paling banyak yakni pencurian bahan makanan. Walaupun banyak yang kembali ke desa, penduduk pedesaan tetap dapat bertahan hidup meskipun standart hidup turun. Petani mengganti tanaman eksport dengan tanaman pangan (pada, ketela, dll). Petani melakukan berbagai aktivitas seperti berburu, menangkap ikan, eksploitasi hasil hutan. Penduduk juga melakukan pengurangan penggunaan opium dan menggunakan barang impor yang murah, misal menggunakan tekstil dari India dan Jepang. Penduduk menanam dan mengkonsumsi umbi untuk mencukupi kalori. Dalam konteks ini tidaklah berlebihan kalau Peter Boomgaard dan Ian Brown mengatakan bahwa periode depresi ekonomi tahun 1930 bukanlah periode suram bagi wilayah Asia Tenggara, demikianlah juga di wilayah Hindia Belanda.
V. Penutup
Wanita pribumi Jawa melakukan migrasi karena berbagai faktor yang berkaitan erat dengan kondisi daerah asal dan daerah tujuan migrasi. Ketika kebutuhan ekonomi tidak dapat dicarikan pemecahannya di daerah asal tetapi dapat dicarikan pemecahannya di daerah lain di luar wilayah tinggalnya, maka wanita melakukan migrasi. Keputusan migrasi itu juga terkait dengan semakin “longgarnya” budaya Jawa, sebagai akibat persoalan ekonomi keluarga. Dalam konteks ini, bagi wanita keputusan melakukan migrasi tidak sematamata merupakan keputusan pribadi tetapi sebagai hasil keputusan seluruh keluarga.
Tujuan wanita melakukan migrasi adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, wilayah yang menjadi tujuan migrasi wanita adalah pusat-pusat ekonomi seperti perkebunan, industri dan wilayah perkotaan yang menawarkan berbagai macam perkerjaan non pertanian. Pada umumnya pusat-pusat ekonomi yang didatangi wanita adalah pusatpusat ekonomi dan perkotaan yang jaraknya relatif dekat dengan daerah asalnya, sehingga ada rasa aman dan tenang karena dekat dengan keluarga. Kegiatan migrasi wanita berjalan dengan lancar karena didukung oleh tersedianya sarana dan prasarana transportasi. Pembangunan jalan-jalan raya dan jalan kereta api yang menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lain khususnya wilayah pedesaan dengan pusat-pusat ekonomi, telah memudahkan migrasi wanita. Kelancaran proses migrasi juga karena peran aktifnya para mandor dan para kepala desa. Kedua kelompok sosial itu saling bekerja sama dalam perekrutan tenaga kerja wanita. Pemberian uang panjar atau uang muka dan berbagai fasilitas kerja yang ditawarkan para pemilik modal menarik wanita untuk migrasi.
Migrasi wanita antar wilayah di dalam pulau Jawa memiliki pola-pola atau kecenderungan yang sama, yakni: 1) migrasi wanita bergerak ke arah pusat-pusat ekonomi dan perkotaan. 2) Jarak migrasi pendek atau relatif dekat dengan daerah asalnya, 3) dilihat dari sifatnya, migrasi wanita adalah migrasi musiman dan migrasi permanen, 4) daerah asal migrasi adalah daerah yang dekat dengan jalur-jalur kereta api dan jalan-jalan raya, yang memudahkan mereka bergerak. Pergerakan migrasi sempat terganggu pada masa depresi ekonomi tetapi setelah ekonomi membaik migrasi wanita berjalan lagi seperti semula yakni migrasi yang dinamis.
Daftar Pustaka
Boeke, J.H., Prakapitalisme di Asia. Jakarta, Sinar Harapan,1983. Boomgaard, P., & A.J. Gooszen, Changing Economy in Indonesia, Volume 11, Population Trends 1795-1942. Amsterdam, Royal Tropical Institute, 1991.
 ----------------------- ,& Ian Brown, ed., Weathering the Storm, The Economies of Southeast Asia in the 1930s Depression. Singapore, Institute of Southeast Asian Studies, 2000.
Breman, Jan, Penguasaan Tanah dan Tenaga Kerja Jawa di Masa Kolonial. Jakarta: LP3ES, 1986.
Dewi Yuliati, Dinamika Pergerakan Buruh Di Semarang, 1908-1926. Disertasi, Yogyakarta, UGM, 2005.
Dros, Nico, Changing Economy in Indonesia, Volume 13, Wages 1820-1940. Amsterdam, Royal Tropical Institute, 1992.
Elson, R.E., The End of Peasantry in South East Asia, A Social and Economic History of Peasant Livelihood, 1800-1990s. United States of America, St Martin’s Press, Inc., 1997.
Hancock, Peter James, Labour and Women in Java: A New Historical Perspective, dalam The Indonesian Quarterly, Vol. XXIV, N0.3, third quarter, 1996. Jakarta, Centre For Strategic and International Studes, 1996.
Houben, Vincent J.H., Perkebunan Swasta di Jawa Abad ke-19 Sebuah Kajian Ulang, dalam J. Thomas Lindblad, ed., J. Thomas Lindblad, ed., Sejarah Ekonomi Modern Indonesia Berbagai Tantangan Baru. Jakarta, Pustaka LP3ES Indonesia, 2000.
Knight, G.R., Kuli-Kuli Parit, Wanita Penyiang dan Snijvolk. Pekerja-pekerja Industri Gula Jawa Utara Awal Abad ke-20, dalam J. Thomas Lindblad, ed., Sejarah Ekonomi Modern Indonesia Berbagai Tantangan Baru. Jakarta, Pustaka LP3ES Indonesia, 2000.
Lee, Everett S., Teori Migrasi. Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, 2000.
Locher-Scholten, Elsbeth, Women and the Colonial State. Amsterdam, Amsterdam University Press, 2000.
Mantra, Ida Bagoes, Mobilitas Penduduk Sirkuler dari Desa ke Kota di Indonesia. Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan UGM, 1999.
--------------------------, Demografi Umum. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003.
Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, Sejarah Perkebunan di Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media, 1991.
Uitgewerkt Vergelijkend Overzicht van de Uitkomsten der Spoor-en Tramweg- Exploitatie in Nederlandsch-Indie, dalam Koloniaal Verslag van 1897, Bijlage CC, No. 30
Volkstelling 1930, Deel I Inheemsche Bevolking van West-Java. Batavia, Departement van Landbouw, Nijverheid en Handel, 1933.
Volkstelling 1930, Deel II Inheemsche Bevolking van Midden-Java en de Vorstenlanden. Batavia, Departement van Economische Zaken, 1934.
Volkstelling 1930, Deel III Inheemsche Bevolking van Oost-Java. Batavia, Departement van Economische Zaken, 1934.



Nama      : Fajar Shiddia
Kelas      : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

Faktor-faktor demografi

-Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh, walaupun pengeluaran rata-rata per orang atau per keluarga relative rendah. Pengeluaran konsumsi suatu negara akan sangat besar, bila jumlah penduduk sangat banyak dan pendapatan per kapita sangat tinggi.
Komposisi Penduduk
Pengaruh komposisi penduduk terhadap tingkat konsumsi, antara lain :
o Makin banyak penduduk yang berusia kerja atua produktif (15-64
tahun), makin besar tingkat konsumsi. Sebab makin banyak penduduk
yang bekerja, penghasilan juga makin besar.
o Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, tingkat konsumsinya juga
makin tinggi, sebab pada saat seseorang atau suatu keluarga makin
berpendidikan tinggi maka kebutuhan hidupnya makin banyak.
o Makin banyak penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan (urban),
pengeluaran konsumsi juga semakin tinggi. Sebab umumnya pola
hidup masyarakat perkotaan lebih konsumtif disbanding masyarakat
pedesaan.
  1. Faktor-faktor Non Ekonomi
Factor-faktor non-ekonomi yang paling berpengaruh terhadap besarnya konsumsi adalah faktor social budaya masyarakat. Misalnya saja, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat/ideal.

sumber :ilmucomputer2.blogspot.com

Nama              : Fajar Shiddia
Kelas              : 1KA31
Mata Kuliah     : Ilmu Sosial Dasar

Senin, 11 Oktober 2010

ISD SEBAGAI ILMU KOMPONEN MKDU

ISD SEBAGAI KOMPONEN MKDU
 

MKDU terdiri dari 6 matakuliah, yaitu : Agama, Pancasila, Kewiraan, Ilmu Alamiah Dasar (IAD), Ilmu Sosial Dasar (ISD), Ilmu Budaya Dasar (IBD).
Tujuan ISD adalah :
Membantu perkembangan wawasan pemikiran dan kepribadian yang luas, dan dapat bermusyawarah dengan satu sama lain.

Ruang Lingkup pembahasan :
1. Adanya berbagai aspek yang merupakan suatu masalah social yang dapat di tanggapi dengan pendekatan sendiri.
2. Adanya keragaman golongan dan kesatuan social lain dalam masyarakat.

Berdasarkan ruang lingkup di atas kiranya masih perlu penjabaran lebih lanjut untuk pokok bahasan yaitu :
1. Mempelajari adanya berbagai berbagai masalah kependudukan dan hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaan.
2. Mempelajari adanya masalah-masalah individu, keluarga dan masyarakat.
3. Mempelajari hubungan antar warga Negara dan Negara.
4. Mempelajari masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan dan pedesaan.
5. Mempelajari ilmu penngetahuan dan tekhnologi untuk memanfaatkan kemakmuaran masyarakat dan pengurangan kemiskinan.

MASALAH SOSIAL DAN ISD
A. Masalah Sosial
Perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan masyarakat dan keadaan lingkungan alam dimana masyarakat itu hidup.
Pengertian masalah social :
1. Menurut masyarakat
Segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum.
2. Menurut para ahli
Suatu kondisi atau perkembangan yang terwujud dalam masyarakat.

B. Masalah Sosial dan Ahli Ilmu sosial
Sejumlah ahli ilmu social merasakan bahwa dengan menggunakan pendekatan masalah-masalah social sebagai kerangkanya maka hakikat masyarakat dan kebudayaan manusia akan lebih dapat dipahami.

C. Masalah Sosial dan Ilmu sosial dasar
Melihat masalah secara obyektif dan subyektif, obyektif berarti masalah ang telah dikembangkan dalam ilmu-ilmu social yang digunakan. Subyektif berarti masalah akan dikaji menurut perspektif masyarakat.

PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Peningkatan julah penduduk/kelebihan penduduk sebab kemajuan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kedokteran, sehingga kesehatan penduduk lebih terjamin dan tingkat kematian bayi rendah. Akibatnya, banyak terjadi pengangguran dan banyak tindak kriminalitas

Jenis kelebihan penduduk :
1. kelebihan penduduk yang absolute, yaitu bila suatu daerah dalam waktu tertentu tidak dapat memberikan kebutuhan hidup bagi manusia yang berdomisili.
2. Kelebihan penduduk yang relative, yaitu suatu daerah dalam waktu tertentu kebutuhan hidup yang ada sudah tidak sesuai dengan kemajuan ekonomi dan perkembangan social.

Kekurangan penduduk disebabkan penduduk lebih mengutamakan karir dan mampu menyeimbangkan jumlah penduduk. Akibatnya kekurangan tenaga kerja.

Pendidikan
Sebab :
1. kemiskinan
2. trikat dalam kerja rumah tangga
3. tidak memiliki sekolah dasar

Kesehatan
Sebab :
1. kebutaan dan anemia
2. Tuberkulosis
3. cacingan
4. Lepra

Kekurangan Gizi : kekurangan Vit.A dan protein hewani.

Usaha mengatasi penduduk dunia
Langkah-langkah :
1. menyeimbangkan jumlah penduduk
2. konsumsi sumber daya dan pembangkit polusi harus dikurangi
3. penyelenggaraan pendidikan dan pengadaan fasilitas kesehatan
4. peningkatan produksi bahan pangan
5. penyuburan dan perlindungan tanah untuk mencegah erosi.

Masalah penduduk di Indonesia
1. Rapat penduduk
2. Penyebaran penduduk
3. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah

Kebijaksanaan Kependudukan
Adalah kebijaksanaan suatu Negara yang menyangkut kemakmuran penduduk
Tujuan : untuk dapat tercapai kesejahteraan penduduk dalam arti yang luas, terutama keseimbangan antara jumlah penduduk dengan hasil pembangunan.
Usaha untuk mengimbanginya:
1. Preservasi : perbaikan kualitas hasil bumi
2. restorasi : pemeliharaan sumber-sumber biotic dengan mencegah penyakit tanaman dan hewan
3. Benefisiasi : memelihara kelangsungan fungsi sumber-sumber alam
4. Reklamasi : Penambahan hasil pertanian dengan mengubah tanah improduktif menjadi produktif.

Usaha yang dilakukan :
1. ekstensifikasi pertanian : memperluas area pertanian dengan forest clearing.
2. intensifikasi pertanian : pemupukan, pengairan, pemilihan bibit unggul, tersering, rotasi tanaman.
3. Transmigrasi : perpindahan penduduk dari daerah yang padat penduduknya ke daerah yang kuran padat

Macam” transmigrasi : transmigrasi umum, sektoral, spontan, bedol desa.
Migrasi
Adalah Perpindahan penduduk yang melintasi batas administrasi misalnya kelurahan, kabupaten, kota , Negara.
Rumus tingkat migrasi : (jumlah dalam 1th/jumlah penduduk) x 1000

Pembagian kerja dalam masyarakat
Kurangnya kesempatan kerja
Sebabnya :
1. pertumbuhan penduduk
2. lambatnya perkembangan dalam bidang pertanian.
Akibatnya yaitu pengangguran, arus urbanisasi
Solusinya membuka lowongan pekerjaan yang luas.

Hubungan manusia dengan kebudayaan
Dari sudut pandang antropologi :
1. Manusia sebagai makhluk biologi
2. manusia sebagai mahluk social budaya

Hubungan masyarakat dengan keudayaan
-Manusia, masyarakat dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang utuh
-Masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan manusia karena manusia hidup bermasyarakat.
Wujud kebudayaan menurut koenjtcaraningrat :
1. ide, gagasan, nilai”,norma, peraturan yang sifatnya abstrak dan tidak dapat diraba.
2. kelakuan berpola manuaia dalam masyarakat
3. Hasil karya manusia

Pranata
-Pranata social : system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas untuk memenuhi kompleks kebutuhan khusus dalam masyarakat.
-Agar kebutuhan terpenuhi maka dirumuskan norma” dalm masyarakat.

4 pengertian norma :
1. cara(usage)
Merupakan suatu perbuatan individu dengan individu lain dalam hubungan bermasyarakat.
2.kebiasaan(folkways )
perbuatan yang di ulang-ulang dan memiliki kekuatan yang besar disbanding cara.
Ex : menghormati orang yang lebih tua.
3. tata kelakuan (mores)
kebiasaan yang dilakukan dan dapat diterima sebagai nama” pengatur dalam masyarakat
4. Adat kebiasaan (custom)
Terjadi dari tata kelekuan yang kuat integrasinya dengan pola keprilakuan masyarakat.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Tari Pendet

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967).
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.

sumber : www.budaya-indonesia.org

Nama :Fajar Shiddiq
NPM :12110572
Kelas :1KA31
Mata Kuliah :Ilmu Sosial Dasar (tugas umum)

Jumat, 01 Oktober 2010

Tugas ISD

Pendahuluan
Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai kemampuan yang terdiri dari :

1.    Kemampuan akademik
2.    Kemampuan profesi
3.    Kemampuan pribadi

Dengan kemampuan seperti diatas para sarjana lulusan perguruan tinggi dapat menjadi sarjana yang sujana yang berarti cakap dan ahli pada bidangnya masing-masing.

MKK atau mata kuliah keahlian adalah mata-mata kuliah menurut bidang ilmu pengetahuan masing-masing yang di berikan di perguruan tinggi

MKDU atau mata kuliah dasar umum terdiri atas :

1.    Pancasila
2.    Agama
3.    Kewiraan
4.    Pendidikan sejarah perjuangan  bangsa
5.    Ilmu alamiah dasar
6.    Ilmu social dasar
7.    Ilmu budaya besar

Pada mata kuliah di perguruan tinggi Indonesia, mata kuliah di atas di kelompokan menjadi 2. Pancasila, agama, kewiraan, PSPB. Kelompok ini diharapkan dapat dasar pedoman untuk berprilaku sebagai warga Negara yang terpelajar.

IAD, ISD, dan IBD. Kelompok ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan pada mahasiswa akan lingkungannya baik lingkungan ilmiah maupun lingkungan sosialnya.

MKDU dilakukan agar dapat memperoleh atau mencetak mahasiswa dengan kualifikasi sebagai berikut :

1.    Taqwa pada tuhan YME
2.    Berjiwa pancasila
3.    Memiliki wawasan yang luas


Tema pokok perkuliahan ISD sebagai bagian dari MKDU  adalah hubungan timbal balik  antara manusia dengan lingkungannya.


ISD  : Pengertian, Tujuan, ISD, IPS

a.    Pengertian
ISD adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial. Ilmu social dasar merupakan suatu bahan studi yang dirancang untuk kepentingan pendidikan

b.    Tujuan
Sebagai salah satu mata kuliah dasar umum ISD bertujuan :

1.    Memahami dan menyadari adanya kenyataan dan masalah social.
2.    Peka terhadap masalah social yang ada di lingkungan
3.    Menyadari bahwa setiap masalah social yang timbul pasti akan bersifat kompleks
4.    Memahami jalan pikiran ahli dari bidang lainnya.

Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Pengetahuan Sosial
1.    Persamaan antara ISD dan IPS

a.    Keduanya merupakan bahan studi pelajaran
b.    Keduanya bukan disiplin ilmu
c.    Keduanya berisi materi tentang kenyataan dan masalah social

2.    Perbedaan antara ISD dan IPS

a.    ISD diberikan di perguruan tinggi tetapi IPS diberikan di sekolah
b.    ISD bersifat tunggal sementara IPS bersifat kumpulan dari sejumlah pelajaran social
c.    ISD diberikan agar terbentuknya sikap dan kepribadian sementara IPS hanya sekedar ilmu pengetahuan saja

Ruang Lingkup Ilmu Sosial Dasar

Materi ISD berisi tentang masalah-masalalah social di sekitar atau lingkungan. Agar dapat memahami masalah-masalah social, terlebih dulu kita mengidentifikasi kenyataan social.

Bahan pelajaran ilmu social dasar dibedakan menjadi 3 golonngan diantaranya :

1.    Kenyataan-kenyataan social yang ada di masyarakat
2.    Konsep-konsep social atau pengertian-pengertian social tentang kenyataan social
3.    Masalah-masalah social yang timbul di masyarakat
Berdasarkan bahan kajian di atas dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi 8 pokok sub pokok bahasan diantaranya :

a.    Berbagai masalah kependudukan
b.    Masalah individu, keluarga, masyarakat
c.    Masalah pemuda dan sosialisasi
d.    Masalah antara hubungan warga Negara dengan Negara
e.    Masalah kesamaan derajat
f.    Masalah masyarakat pedesaan dan perkotaan
g.    Masalah pertentangan-pertentangan social
h.    Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat


Nama : Fajar Shiddiq
NPM  :12110572
Kelas   :1KA31
Mata Kuliah :Ilmu Sosial Dasar